berkali-kali chie dkk mengaji, tapi bahasan yang teteh mentor kami paparkan seringkali berkenaan dengan syahadatain... awalnya terasa begitu aneh. ya, awalnya bertanya2 apakah harus sedalam ini? subhanallah, baru terasa materi ini lebih menghujam saat chie jadi mentor...
jumat ini chie ngementor lagi dan ngerasain lagi kebahagiaan yang mungkin ga dirasakan oleh orang2 yang ga pernah dan ga mau jadi mentor. jadi inget perkataan seseorang: "aku merasa hidupku begitu kering... saat itulah aku melengkapinya dengan pembinaan; dan saat aku merasa tidak lengkap dengan pembinaanku, aku melengkapinya dengan membina..."
bukan karena kelebihan yang kupunya, chie ngerasain itu, tapi karena ada kemurahan Allah yang Dia sampaikan melalui ade2ku... dan nikmat terbesar bagi chie adalah saat Dia mengirimkan cinta, tapi cinta itu bukan dari mereka untukku, tapi langsung untukku... UNTUKKU... hadir dalam hatiku sendiri... merasa ingin melindungi, tak ingin dia sedih, dan berharap ia selalu tersenyum dalam hidupnya karena senyumnya telah mengobati semua kejenuhan dan kekacauanku (ha... chie puitis...). alhamdulillah, Rabbi, peliharalah rasa ini...
mudah2an cinta ini juga hadir karena konsekuensi syahadatain itu sendiri... meski kata seseorang, cinta cukup disimpan dalam hati, tapi tidak bagiku. cinta ini perlu kusampaikan dengan lisan, tulisan, dan perbuatan agar orang lain tahu betapa murah hatinya Allah kepadaku, hamba yang seringkali mengkhianatinya...
Rabb, harus bagaimanakah rasa syukur kami kepadaMu? tapi, mengapa hamba dha'if dan jahil ini selalu melupakan rasa syukur??? astaghfirullah...
Alhamdulillah damang,,,,
Sawalerna kumaha??? mudh2an nuju sehat walafiat.